Nyaman mana?


Nyaman mana?
Temenan sama anak2 masjid/musholla, atau sama temen2 satu perjuangan (baca: temen2 satu jurusan kimia angkatan 09) ?

Semenjak 2 semester akhir ini, teman gaul saya berubah. Dulu sering bgt jalan2 kemana-mana, berenang bareng, mabit, bla bla bla, pokoknya kemana2, itu bareng anak2 masjid/musholla. Anak2 baik. Sekarang, karna lebih sering di kimia, sering di lab, dan ketemu temen2 kimia yg heboh2 itu, jadilah saya lebih sering berinteraksi dgn mereka. Sebenernya dari awal kuliah juga lebih sering gaul sama mereka, tapi, ya ga ‘sedekat’ sekarang ini… paling sebatas belajar bareng, ngelaprak bareng, atau nugas bareng, atau ‘ngalay’ bareng. Selebihnya, waktu saya lebih byk dihabiskan bersama anak2 masjid itu.

Nyaman mana?

Jujur, saya lebih nyaman temenan sama temen2 saya itu, mereka2 itu, anak2 bandel itu, temen2 kimia 09.

Temenan sama mereka berasa balik lagi ke masa2 SMA…

Teman2 yg koplak tapi jenius, teman2 yg rame, yg selalu aja ada bahan gosip tiap hari, bukan gosip ngomonging kejelekan orang, tapi gosip2 ga penting yg berubah jd penting dan lgsung jd trending topic bahan kecengan gara2 mereka bahas (contohnya aja gosipin si A yg bantuin kerjaan si B-pdhl yaela cuma bantu gitu doang ga ada maksud apa2)

Saya baru sadar, betul2 baru sadar, bahwa mereka itu, dibalik ke’tukang gosip’-an-nya, dibalik ke-study only-an-nya, dibalik ke-alay-an-nya, dibalik ke-koplak-an-nya, adalah teman2 yg solid, yg menjaga ukhuwah, yg bisa dibilang ‘itsar’ nya sangat luar biasa trhadap sesama…

Dan yg membuat saya nyaman adalah, tidak ada sekat dan ke-jaim-an, bedalah kalo gaul sama anak2 masjid, kadang ada batas2 yg harus diperhatikan utk menjaga image diri. Tapi kalo gaul sama anak2 koplak itu, yaelaaa, ga ada yg namanya jaga image!

Satu hal lg yg saya baru sadari adalah, selama ini saya salah, seharusnya dari dulu saya habiskan waktu brsama bocah2 itu, kenapa? Karna kehadiran saya disitu sangat sangat berguna, setidaknya, bisa membuat mereka yg tadinya sholat diakhir waktu, berubah jd berlomba2 diawal waktu, jama’ah-an, dan pake wirid pula. *subhanallah temen2 gue…

Nah, tapi ada konsekuensinya sih. Konsekuensinya itu yaaa, mau ga mau gue harus dengerin semua isi hati mereka soal masalah perasaan… yeah, curcol2 galau yg ga ada ujungnya, makin diceritain makin jadi galaunya… Ujung2nya mereka mau tau banget juga soal kegalauan kita. Doooh ini nih bagian gak enaknya. Yaudalayah, berhubung ga boleh sok jaim dan berhubung saya bukan orang yg introvert, jadilah saya harus beberkan ke mereka kegalauan saya –”

Pernah denger petuah ini?
“Dimanapun kita berada, kita adalah da’i. Dan kita adalah da’i sebelum menjadi siapapun.”

Yeah, saya merasa, peran2 seorang da’i betul2 terasa justru ketika saya bergaul dekat dgn mereka, bukan ketika saya ada di MII, atau ketika ngisi mentoring, atau kegiatan2 lain yg berbau dakwah. Ketika dekat dgn mereka maka yg saya pikirkan adalah, bagaimana saya bisa membuat kebiasaan2 jahil mereka berkurang, dan berganti mnjadi kebiasaan2 baik. Apakah itu sulit? Oh tidak. Sangat mudah bahkan. Asalkan kita mau menjadi “close friend” buat mereka, dan jalankan “fungsi” kita sebagai teman, salah satunya, saling mengingatkan dlm hal kebaikan. Bukankah itu yg selalu didoktrinkan? Yaudah, tinggal diimplentasikan. Implementasinya bukan ke temen2 yg emang udah sholeh dari sananya, tapi justru ke temen2 yg lebih banyak salahnya dibanding sholehnya.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s