Pelajaran hidup #1


Terkadang kita perlu berteman dekat dengan mereka–orang yang jauh lebih tua dari kita, yang diluar keluarga kita (bukan kakak atau kakak ipar atau kakak sepupu-penj), dan juga bukan murobbi kita–hanya untuk belajar tentang bagaimana menjadi dewasa dan bijaksana.

haaaagggs, tumbeeeeen bangetttt ngomongnya bener !

Sekali-kali lah ngepos yang bener bener, yang mikir dikit biar tambah pinter. hahai.

Empat hari kemarin saya berkesempatan “main” ke Jogja bersama seorang kakak mahasiswa S2. Tapi sekarang saya gak akan cerita soal ngapain aja kami disana. Saya mau share tentang apa yang saya dapat dari hidup bersama kakak itu selama 4 hari kemarin di Jogja. Dia adalah kak Ela, mahasiswa satu bimbingan dan satu lab dengan saya waktu skripsi kemarin, yang sekarang lagi menyelesaikan thesis nya dengan topik yang sama dengan skripsi saya (tapi tentu lebih kompleks).

IMO, orang yang jauh lebih tua dari kita, biarpun dia tipikal orang yang, mungkin menurut teman-teman seusianya biasa aja, bukan tipe orang yang wise atau yang setiap ucapannya mengandung hikmah *cielah*, ketika dia bergaul dengan kita (orang yang usianya jauh lebih muda dibawah dia) maka, dia akan menjadi orang yang paling bijaksana dimata kita. Dan sebagai konsekuensinya, kita akan merasa menjadi sangat sangat bocah waktu ngobrol dengan orang tersebut. Saya ngomong begini karena, itulah yang saya rasakan. Ngga tau deh ya ini valid atau ngga. hehe. It’s just my opinion.

——————————————

By the way, suka baca goosebumps ga? itu buku cerita horor ber-seri yang saya demen banget baca waktu jaman SMP. Ceritanya serem-serem banget.. tapi seru aja bacanya, soalnya horornya bukan horor Indonesia, hehee *if you know what I mean*. Nah, ternyata si kak Ela itu penggemar goosebumps juga dulu waktu SMA, hahaah, kebetulan yang sangat kebetulan banget. Kalo belum pernah baca atau bahkan gak pernah denger, coba deh baca *promosi*, dijamin abis baca itu kamu bakal banyak berpikir tentang sesuatu yang gak biasa, yang ghaib tapi nyata, nyata tapi ghaib. *nah loh bingung kan? hahha*

Jadi di salah satu serial goosebumps, ada satu cerita yang, kita bisa milih sendiri alur ceritanya. Misal, pas lagi baca halaman 2, di paling bawah halaman ada tulisan, “lanjut baca ke halaman 5 atau halaman 8?” Kita bisa milih, mau baca halaman mana? Misal kita pilih halaman 8, nanti pas udah baca sampe katakanlah halaman 10, ada lagi tulisan “lanjut baca ke halaman 15 atau 18? begitu dan begitu seterusnya. Dan kalo kita baca halaman 5, nanti pas udah di halaman 7 ada piihan lagi mau baca halaman mana.. TAPI, semua cerita itu, mau baca halaman mana halaman mana dulu, nanti pada akhirnya endingnya tetep sama dan ceritanya tetep nyambung! GILAK banget gak tuh yang bikin cerita? bacanya aja bikin pusing (tapi seru!), gimana bikinnya? SALUT.

Berawal dari goosebumps, kemudian berlanjut ke diskusi. Sebetulnya ada yang jauh lebih hebat dan lebih WOW dalam hal membuat cerita yang kita bisa sesuka hati memilih alurnya. Dia adalah Allah.

Dialah Allah, sang pengatur kehidupan. Coba deh dipikir, betapa sering dalam hidup ini, kita dibenturkan pada beberapa pilihan dan kita harus memilih the right and the certain one. Allah memberikan kita pilihan yang terlalu banyak, lalu membebaskan kita untuk berpikir dan menentukan mau milih yang mana. Tetapi ketika kita sudah memilih, maka Allah bilang kalo, apa yang kita pilih, itu adalah takdir yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Intinya, ini soal Qada dan Qadar. Jadi apa yang ingin saya bilang adalah, Allah udah bikin skenario, bikin banyak skenario yang saling berkaitan untuk tiap masing-masing orang. Mungkin 1 orang bisa punya 100 skenario berbeda. Kita yang memilih, mau menjalani skenario yang mana? Dan ketika kita memilih, maka itu memang sudah takdir kita karena Allah memang sudah membuat skenario itu. Misal kita memilih skenario A, maka skenario A adalah takdir (Qadar) kita. Kemudian setelah itu, ketika kita ikuti alur skenario A, tiba-tiba kita dihadapkan lagi pada pilihan: mau lanjut skenario mana? katakanlah B atau F? atau M? atau T? Kemudian kita memilih, misal lanjut skenario T, maka itu juga sudah takdir. Di setiap skenario yang kita pilih, akan kita temui pilihan-pilihan lagi, lagi, dan lagi.. Begitulah. Kita bisa memilih takdir, tetapi Allah sudah menetapkan beberapa hal yang merupakan konsekuensi dari skenario skenario tersebut. 4 hal yang sudah Allah tentukan, yang disebutkan dalam hadits:

Dari Abu Abdur-Rahman Abdullah bin Mas’ud ra, berkata, Rasulullah saw bersabda kepada kami, sedangkan beliau adalah seorang yang jujur dan terpercaya, sabdanya: “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah (air mani yang kental), kemudian menjadi alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula, yaitu 40 hari. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan mencatat 4 (empat) hal yang telah ditentukan, yaitu: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan sengsara atau bahagianya. Maka demi Allah Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya setiap kalian itu ada yang beramal dengan amalan ahli surga sehingga jarak antara dia dengan surga itu jaraknya hanya sehasta (dari siku sampai ke ujung jari). Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Ada juga di antara kalian yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya sehasta. Lalu suratan takdir mendahuluinya, sehingga ia beramal dengan amalan ahli surga, maka akhirnya masuklah dia ke dalam surga itu”. (HR Bukhari dan Muslim)

Bayangkan jika seandainya satu orang punya 100 skenario. Lalu ada berapa milyar orang yang menghuni bumi ini?? maka jika dihitung total, sebanyak apakah skenario yang sudah Allah buat untuk seluruh manusia yang hidup di dunia??? Masya Allah.. LUAR BIASA ! langsung deh terngiang ngiang ayat, fa bi ayyi a laa i rabbikuma tukadzdzibaaan?

Betapa dahsyat kehidupan ini…

Maka benarlah firman Allah surat Ar-Ra’d ayat 11 yang berbunyi, “………..Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri,………..”

Kita tidak pernah bisa menjemput takdir yang kita harapkan jika kita tidak memilih skenario dan menjalani skenario itu dengan sungguh sungguh. Kita tidak bisa mendapatkan apa yang sangat kita harapkan jika tidak ada usaha dari kitanya sendiri untuk mendapatkan itu. Sebagai contoh misalnya, kita ingin syurga, maka kita harus memutuskan untuk menjadi Muslim dan beriman dan istiqomah menjalankan ajaran Islam. Itu adalah konsekuensi logis..

—————————————–

(to be continued…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s