Karir dan Jodoh


Katanya, penentu kebahagiaan hidup seseorang adalah karir dan jodohnya. Saya sering banget dengar orang bilang begitu, dulu, waktu saya masih cupu, belum mengerti apakah sebegitu sakralnya dua hal itu sehingga jadi penentu kebahagiaan? Bahagia di dunia aja kali, habis itu kita meninggal, hilanglah kebahagiaan dunia, dan amalan-amalan kitalah yang akan menentukan apakah kita akan bahagia di dalam kubur atau di akhirat kelak. Begitu pikir saya.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, saya akhirnya memahami maksud pernyataan itu.. saya akhirnya menemukan kaitan antara karir, jodoh, dan kebahagiaan.

Gak ada yang salah kok kalo kita mengejar-ngejar karir. Harta memang gak dibawa mati, tapi siapa bilang mengejar karir identik dengan mengejar harta? Menginginkan pekerjaan tertentu dengan posisi tertentu tidak selamanya tentang “ingin gaji sekian”, melainkan tentang kecintaan kita terhadap suatu pekerjaan, serta tentang… dalam kapasitas apa kita ingin berkontribusi bagi ummat. Kerja itu harus dinikmati dan diniatkan untuk ibadah. Jika kita tidak bisa menikmati pekerjaan kita, tentu sulit rasanya meniatkan bekerja sebagai sarana ibadah. Disitulah letak kebahagiaannya, dimana kita bekerja bukan semata-mata untuk harta, melainkan untuk mencari nafkah, eh, maksudnya, untuk ibadah (dan dakwah) *eh, mencari nafkah untuk keluarga kan juga ibadah ya? hehe*. Kebahagiaan yang in syaa Allah menyelamatkan kita di akhirat nanti…

Gak ada yang salah juga kok kalo kita ingin jodoh yang begini begitu, even sampe-sampe orang-orang bilang kalo kita terlalu pemilih lah, terlalu perfeksionis lah, terlalu dan terlalu. Bukankah jodoh kita yang akan mengantarkan kita ke syurga atau neraka-Nya? krusial sekali bukan? Kalo kita salah salah dalam memilih di awal, celakalah kita di akhir hayat.. nauzubillahi mindzalik. Dan tentu dalam memilih, yaa memang benar, agama itu nomor satu. Tapi… kalo ternyata kita juga ingin lihat dari misalnya, fisik, atau latar belakang keluarga, atau kemapanan, apakah gak boleh? Bahkan haditsnya malah menganjurkan tuh! Atau melihat dari kecocokan, entah cocok dalam hal komunikasi, atau sifat dan karakter, atau lainnya, istilahnya, sekufu. Bukankah justru itu harus?

Fenomena sekarang, kesannya orang yg mempertimbangkan hal lain selain agama dapet cap agak hubbudunya. Padahal… betapa banyak pasangan yang pisah karna api sulut dari mertua yg begini begitu, misalnya. Atau betapa banyak juga pasangan yg rumah tangganya jd berantakan lantaran merasa gak puas satu sama lain, suami merasa istrinya kurang, istri lebih lebih, merasanya suaminya kurang becus jadi kepala keluarga.. yang inti masalahnya sebetulnya tuh pasangan memang udah gak sekufu diawal, misalnya. Lalu muncul pertengkaran-pertengkaran kecil yang lama-lama jadi besar. Padahal dulu pas kenalan udah berazzam mendahulukan agama diatas segala-galanya, sehingga mengabaikan kriteria-kriteria lainnya. Gimana mau sama-sama ke syurga kalo kondisi rumah tangganya berantakan begitu? Padahal seharusnya bisa diatasi diawal kenalan. Kecocokan atau kesekufuan.

Oh ya, intermezzo dikit, hehe. Kata abi saya, gak selamanya orang mengerti agama itu baik pula akhlaknya, tapi sebaliknya, orang yang berakhlak baik sudah pasti baik pula agamanya, karena orang yg berilmu (paham agama) belum tentu mengamalkan ilmunya, sementara orang yang beramal (berakhlak baik) sudah pasti mengetahui terlebih dahulu ilmunya. Gimana cara tau orang itu berakhlak baik? Pertama lihat shalatnya, apakah tepat waktu dan khusyuk? Kedua, lihat cara dia memperlakukan ortunya dan saudaranya. Ketiga, lihat apakah ortunya memberi dia nafkah dari harta yang halal? Ketiga cara tau itu cukup. Gak perlu lagi dilihat bagaimana dia berinteraksi dengan lawan jenis, bagaimana dia bersikap dihadapan bos, bagaimana pengalaman dia ketika memimpin, deelel dekaka, deeste.. gak penting. Bisa jadi orang yang kelihatannya baik dimuka umum, kelihatan iya kalo ngomong soal agama, padahal mah kalo shalat buru-buru ditambah shalatnya di akhir waktu. Atau padahal kalo dirumah gak pernah dengerin apa kata ortu. Atau ternyata waktu dia masih dinafkahi ortu, ortunya kerjaannya ga halal… akhirnya kita ketipu sama penampilan. Nauzubillah min dzalik.

Ternyata sebegitu pentingnya karir dan jodoh mengantarkan kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat… bahagia di dunia karena menikmati karir dan tugas dalam rumah tangga sebagai sarana ibadah, bahagia di akhirat (in syaa Allah) karena semuanya kita jalani dengan ikhlas dan mengharap ridho-Nya.

🙂

2 pemikiran pada “Karir dan Jodoh

  1. Tulisan menarik, tapi tulisan ini hanya pembelaan dari penulis semata yang menginginkan calon suami dengan kriteria fisik dan ekonomi yang baik. Agama bisa jadi di nomor duakan.

    Tulisan Penulis:
    “Fenomena sekarang, kesannya orang yg mempertimbangkan hal lain selain agama dapet cap agak hubbudunya. Padahal… betapa banyak pasangan yang pisah karna api sulut dari mertua yg begini begitu, misalnya. Atau betapa banyak juga pasangan yg rumah tangganya jd berantakan lantaran merasa gak puas satu sama lain, suami merasa istrinya kurang, istri lebih lebih, merasanya suaminya kurang becus jadi kepala keluarga.. yang inti masalahnya sebetulnya tuh pasangan memang udah gak sekufu diawal, misalnya.”

    Penulis menyatakan statement “banyak” yang pisah karena kekurangan dari pasangannya dengan hanya melihat dari sudut pandang pasangan pisah. Tanpa menyadari bahwa ada “banyak” pasangan yang langgeng terus dengan kekurangannya.

    Kesimpulannya, penulis tidak ingin di cap sebagai pengejar dunia semata. Padahal buktinya ada pada tulisan berikut:

    Tulisan Penulis:
    “Dan tentu dalam memilih, yaa memang benar, agama itu nomor satu. Tapi… kalo ternyata kita juga ingin lihat dari misalnya, fisik, atau latar belakang keluarga, atau kemapanan, apakah gak boleh? Bahkan haditsnya malah menganjurkan tuh! Atau melihat dari kecocokan, entah cocok dalam hal komunikasi, atau sifat dan karakter, atau lainnya, istilahnya, sekufu. Bukankah justru itu harus?”

    Yakin, agama nomor satu? Tapi masih ada kata ‘tapiii…’

    Kira-kira model wanita seperti anda itu seperti ini:
    1. Pria Hafal Al-Qur’an – Belajar Hadits, akhlah baik, anak ustad pesantren, lulusan S1 Cairo Mesir, usaha kelontong warung, kerja penterjemah bahasa Arab, tapiii tidak ganteng dan ekonomi kurang? Ga deh.

    2. Pria tampan, ekonomi lumayan, lulusan Fakultas Teknik, kerja menjadi engineer di Pertamina, akhlak baik tapi pengetahuan agama pas-pasan seperti pria pada umumnya? Pilih ini deh.

    Silahkan penulis sebar dan survey ke teman-teman wanita lain. Saya yakin “banyak” jawabannya pilih nomor 2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s