Diary 1: Preliminary


Sudah lama sekali ingin menulis di menu yang baru saja saya buat ini. Menu bernama “Teacher’s Diary”. Kedengerannya kayak judul drama movie Thailand sih yaa, berhubung saya gak nemu lagi nama yang lebih keceh, jadi yasudalah saya pakai saja nama judul drama itu.

Well, jadi ini tulisan pertamax banget di kolom ini. Semoga selanjutnya bisa istiqomah selalu cuap-cuap suka-duka menjadi guru disini. Insyaa Allahu Ta’alaa.🙂

Pertama-tama, mungkin ada baiknya saya cerita dulu alasan apa sih sebetulnya yang mendorong saya tiba-tiba saja beralih profesi menjadi guru? Gak ada hujan gak ada angin, tiba-tiba aja berkecimpung di dunia pendidikan? How come?

Baiklah daripada berpanjang lebar, saya akan langsung berceritera. Jadi ceritanya, pada jaman dahulu kala sebelum negara api menyerang, saya pernah punya keinginan untuk gabung IM (Indonesia Mengajar) untuk jadi relawan atau bahasa kerennya PM (Pengajar Muda) di sekolah-sekolah pedalaman. Ingin merasakan pengalaman menjadi pendidik sebagai bekal hidup saya kelak.

Saya pun sudah persiapkan essay sebagai prasyarat untuk mendaftar, sampai minta dikoreksi segala sama salah seorang mantan PM yang saya kenal. Lalu tibalah saat-saat paling menyedihkan. Saat dimana saya meminta do’a dan restu dari orangtua bahwa saya mau daftar IM, bismillah.., tapi kemudian apa respon ortu?

“ke pedalaman non? siapa yang jagain? gak ada saudara. Om kamu tinggal di kota semua. Inget kamu itu perempuan. Tidak dibenarkan dalam agama perempuan tinggal tanpa penjagaan orangtua atau mahramnya.”

Sip. Saya lupa point itu. Saya lupa kalau saya ini perempuan yang kalau kemana-mana harus ada yang jagain. Tadinya saya mau nekat aja (karena selama ini pun sudah biasa nekat hehe): tetap daftar, urusan jadi gak jadi berangkatnya nanti kita pikirkan kembali, kan belum tentu juga lulus seleksi. Tapi dipikir-pikir… buat apa dijalanin kalau ortu gak ridho? Bisa jadi tidak berkah. Lalu, ya memang benar, selama ini kan saya kalau kemana-mana gak pernah benar-benar sendiri, kalaupun gak ada om atau siapapun yang bisa jadi mahram, pasti ada orang-orang yang bisa menggantikan posisi mahram (yang ortu percaya tentunya). Jadi… baiklah forget it. Jangan daftar.

Singkat cerita, akhirnya saya berusaha cari pelampiasan. Agustus 2014, satu tahun yang lalu, saya mendaftar ke semua sekolah yang lagi hire guru. Agak minder sih, karena background saya bukan pendidikan melainkan eksakta. Agak gimanaaa gitu… saya inget betul setahun yang lalu, saat pertama kalinya saya interview di sebuah sekolah, principalnya bilang begini (kira-kira kalimatnya begini),

“Saya sih melihat kamu cukup cerdas. Bahasa Inggris pun mumpuni. Tapi (ada tapinya), yang kami butuhkan adalah guru, bukan dosen. Maksud kami, ada keterampilan khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru, yang bahkan guru-guru kami yang sudah bertahun-tahun mengajar pun sampai saat ini masih terus belajar untuk benar-benar menguasai keterampilan itu. Karena, keterampilan tersebut tidak mudah dikuasai, meskipun dulu sebelumnya sudah pernah dipelajari di bangku kuliah ataupun di training-training. Karena jaman terus berkembang, dan pola perkembangan anak selalu berubah seiring perkembangan jaman. Saya lihat aura kamu sudah terlihat aura gurunya, tapi sepertinya kamu perlu banyak belajar dulu. Tapi, baiklah saya approve dulu, nanti kita lihat setelah micro teaching apakah bisa dilanjutkan mengajar atau tidak.”

Yang intinya, yeah, walaupun di persyaratan mintanya minimal S1, tuh kepsek sebetulnya ragu sama kemampuan gueh yang cuma seorang S.Si, bukan S.Pd., ditambah gue nol besar, gak punya pengalaman mengajar sama sekali. Kalo aja sebelumnya gue udah pernah ngajar minimalnya 6 bulan sampe 1 tahun, mungkin si ibu kepsek gak akan berat hati begitu bilangnya.

Akhirnya saya gak lanjutin itu proses, hari H micro teaching saya tidak datang. Minder duluan. Sebetulnya ada alasan lain juga sih. Ternyata sekolahnya itu jaaaauh banget dari tempat tinggal saya. Nama sekolahnya “Mutiara Harapan Islamic School”, terletak di pelosok Bintaro, yang kalo kesana dari tempat saya, naik angkotnya nyambung berkali-kali berasa gak nyampe-nyampe, ditambah suasanan jalanan Bintaro di pagi hari yang saaangat macet. Naik motor pun percuma, tetap aja macet dan jauh rasanya. Mrs. principal menyarankan untuk cari kos-kosan dekat sekolah saja, tapi saya terlanjur nyaman dengan kosan saya saat ini, rasanya gak ingin pindah-pindah lagi (anaknya males move on). Jadi saya stop sampai disitu saja.

Sejak saat itu saya jadi berpikir, sepertinya menjadi guru memang tidak mudah… Ucapan Mrs. Principal yang menginterview saya cukup memberikan gambaran di benak saya bahwa, menjadi guru sejatinya adalah menjadi pembelajar seumur hidup. Memang benar, saya harus banyak belajar terlebih dahulu sebelum menjadi pembelajar sungguhan. Saya harus mencari dan mengikuti pelatihan menjadi pendidik selama 6 bulan dulu, baru kemudian nanti saya coba lamar-lamar lagi cari lowongan guru. Sip.

Disisi lain, ketika itu saya masih bekerja di LPDP yang bisa dibilang, posisi dan neighborhoodnya sudah sangat nyaman sekali. Pekerjaan yang sibuk tapi enjoy, teman-teman kerja yang klop, gaji yang 2 kali lipat gaji guru bahkan lebih, dan segala fasilitas yang menggiurkan. Kadang bikin goyah. Kadang bikin berpikir, baiklah fokus saja di kerjaan ini sambil mempersiapkan rencana kuliah dan lupakan saja keinginan menjadi pendidik.

Terkadang zona-zona nyaman seperti yang saya bilang diatas justru adalah musuh terbesar kita. Musuh yang harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi oleh kekuatan mata sharingan. Yap! Saya sadar pada akhirnya bahwa itu adalah challenge, apakah zona nyaman itu bisa kita lawan atau kita malah keasyikan didalam situ.

Saya berikhtiar mencari peluang… Mencari training guru ternyata tidak mudah, dan terkadang juga waktunya tidak klop karena selalu bentrok dengan pekerjaan. Saya memutuskan untuk segera resign saja kalau begitu. Mengejar sesuatu mesti ada pengorbanan.

Beberapa hari kemudian setelah memutuskan resign, tiba-tiba seorang kenalan menawari saya menjadi guru di sebuah sekolah. Tidak perlu pengalaman mengajar, karena sekolah tersebut baru membuka tingkat SMA dan sangat membutuhkan guru yang bisa mengajar kimia. Sebuah kesempatan emas saya pikir… Saya tidak perlu training lagi, justru sekolah baru ini akan jadi tempat training bagi saya, sebelum nanti saya menjadi guru yang sesungguhnya. Saya merasa Allah menjawab ikhtiar saya, disaat saya baru mau mulai mencoba lebih serius.  Seringkali ketika kita sudah mantap untuk memilih apa yang kita yakin bahwa itu adalah yang terbaik, tiba-tiba pintu-pintu kemudahan itu Allah bukakan. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya iyakan tawaran tersebut.

And eventually, the brand new journey had already just begun…

5 pemikiran pada “Diary 1: Preliminary

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s