Ayahku


Usianya sudah kepala lima. Sudah punya cucu satu. Putih-putih di rambutnya memang sudah tidak bisa menipu, namun fisiknya masih sebegitu segar terlihat layaknya lelaki paruh baya. Giginya masih lengkap tersusun rapi. Raut wajahnya masih sama dengan raut wajah yang selalu aku lihat sejak aku dapat mengingat. Cara berjalannya masih sama tegap. Hanya saja usia membuatnya lebih sering bercerita bahwa dirinya lebih mudah lelah setelah beraktivitas seharian.

Aku selalu khawatir setiap kali menjelang pergantian tahun dimana usiaku (insyaa Allah) tidak lama lagi akan segera bertambah. Bukan, bukan aku khawatir terhadap diriku sendiri. Tapi yang kukhawatirkan adalah ketika melihat dirinya yang juga semakin bertambah usianya kelak (insyaa Allah). Aku selalu takut melihatnya menua, walau sejatinya setiap manusia pasti akan bertambah tua.

Aku takut sekali akan suatu masa dimana aku melihat gigi-giginya tak lagi lengkap, sedang disaat itu aku tidak bisa selalu berada disampingnya. Aku khawatir sekali ia cemburu melihatku mencurahkan perhatian kepada seseorang yang lebih berhak atasku nanti, sementara dirinya yang senantiasa memberikan kasih sayangnya kepadaku seumur hidupnya, semakin renta dan butuh diperhatikan pula.

Ayahku, yang teramat aku cintai…

Sungguh waktu berlalu begitu cepat…

Sungguh rasanya aku ingin selalu menjadi putri kecil milik ayahku. Milik ayahku. Seorang putri yang mencium tangan ayahnya setiap kali ayahnya berangkat bekerja atau setiap kali ia berpamitan pergi.

Aku pasti akan merindukan tangannya yang beraroma syurga. Tangan yang telah mengelus lembut kepalaku, menuntunku berjalan, berlari, mengenggam kuat saat aku dalam bahaya, menarikku untuk bersegera menuju perintah-Nya. Tangan yang nanti akan menjabat tangan lelaki lain yang akan menggantikan tangannya untukku. Tangan lain yang ia percayakan kepadanya putri kecilnya untuk dituntun, digenggam, diperlakukan sebagaimana yang ia telah lakukan terhadap putrinya.

Ayahku. Satu hal yang amat sangat aku syukuri dalam hidup ini adalah menjadi putrinya, meski tidak bisa selamanya menjadi miliknya. Tapi tentu kita pernah mendengar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki bukan? Maka cintaku kepadanya, akan selalu bersemi di hati ini, meski nanti aku menjadi milik yang lain.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang kepadamu hingga akhir hayatmu, Ayahku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s