Aset Negara Jangan Disiakan


Sebetulnya saya cukup geram dan kecewa dengan beberapa kejadian mengecewakan terkait kebijakan pemerintah yang terjadi dalam masa satu tahun pemerintahan baru ini, tapi dengan dalih bahwa negeri ini tidak butuh pemuda yang hanya bisa berkomentar nyinyir di media melainkan pemuda yang bisa berkontribusi menyelesaikan masalah dan mencari solusi, saya berusaha untuk bersikap ‘cool’ menghadapi setiap peristiwa (memalukan) yang terjadi di negara ini, salah satunya dengan tidak berkomentar di media, karena berkomentar tidak akan menyelesaikan masalah dan saya juga minim kemampuan untuk ikut berkontribusi menyelesaikan masalah yang terjadi. Salah satunya pula dengan tidak online facebook, karena terlalu banyak subjektivitas di media sosial tersebut.

Hingga pada suatu hari saya membaca sebuah berita mengenai surat kemenkes yang ditujukan untuk bapak Dr. Warsito P. Taruno, M.Eng yang berisi penghentian kegiatan klinik kanker beliau di Tangerang, dimana membuat tangan saya gatal sekali ingin melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa keputusan kemenkes tersebut adalah suatu keputusan tidak masuk akal yang sangat fatal. Saya tidak bisa menjadi ‘cool’ lagi mendengar berita ini. Ahh padahal saya bukan siapa siapa, saya bukan penderita kanker, saya juga bukan ilmuwan yang bergabung dgn timnya Bpk. Dr. Warsito, tidak punya kepentingan apapun dengan CTech Lab. Tapi mendengar hal tersebut, perasaan dan pikiran saya berkolaborasi menciptakan rasa sedih yang cukup mendalam dan memaksa jari jemari saya untuk sekedar menuliskan apa yang saya pikirkan dan rasakan.

Saya pertama kali mendengar nama Dr. Warsito ketika kuliah, ketika itu saya lagi curious tingkat tinggi terhadap ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang memiliki kemampuan tingkat dunia. Kemudian selepas kuliah, saya mencari tahu tentang CTech lab, tentang kegiatan yang dilakukan oleh tim Dr. Warsito hingga menginspirasi saya utk melakukan riset serupa jika diberikan kesempatan kuliah lanjut. Jika CTech lab melakukan riset menghilangkan kanker, maka saya, dengan basic saya di bidang biosensor dan elektrokimia, menyusun rencana proposal tesis (visioner amat??) mengenai sensor kanker yang aman dari segi medis, praktis dan terjangkau karena yang saya ketahui sejauh ini, alat medis untuk mendeteksi adanya kanker masih tergolong high risk dan mahal serta tidak praktis. Pada intinya, banyak cara yang bisa dilakukan oleh ilmuwan non medis untuk meningkatkan kesehatan masyarakat yaitu melalui inovasi teknologi medis.

Kemudian di tahun 2014 lalu, saya berkesempatan beberapa kali menyaksikan langsung presentasi Dr. Warsito mengenai CTech Lab dan alat ECVT dan ECCT-nya dalam sebuah kegiatan yang saya sendiri panitianya, kegiatan PK LPDP. Alangkah senangnya bisa bertemu langsung dengan orang yang telah menginspirasi saya. Alangkah bersyukur Allah memberikan kesempatan kepada saya berada dalam kegiatan tersebut. Bapak Dr. Warsito adalah salah satu pembicara ‘langganan’ kami waktu itu. Sampai-sampai saya cukup hafal dengan apa yang akan beliau sampaikan, tentang rumus njelimet yang akan beliau paparkan. Sungguh, menyaksikan presentasi beliau sama halnya menyaksikan presentasi Pak Habibie. Sama-sama orang jenius yang rendah hati dan ikhlas, tidak ada yang diharapkan melainkan kebaikan tercipta di negeri ini. Sama-sama aset negara yang harus dijaga dan dipertahankan.

Saya sangat terharu ketika beliau berbicara tentang pilihannya untuk kembali ke Indonesia, padahal kesempatan untuk mengembangkan riset sangat terbuka lebar diluar sana. Sungguh pilihan yang amat mulia. Ditambah lagi mendengar testimoni para pasien kanker yang datang ke lab nya, yang menunjukkan betapa besar usaha kontribusi beliau untuk negeri ini. Sempat terbersit pertanyaan mengapa beliau memilih bekerja dengan tim sendiri tidak melebur dengan instansi/lembaga pemerintah, tetapi kembali akhirnya saya menyadari bahwa memang tidak semudah itu mengembangkan inovasi di Indonesia.

Ahh, Indonesia-ku.. mengapa orang berilmu tidak mendapat perhatian yang layak di negeri ini? Saya memang bukan orang yang paham Undang-undang, tetapi bukankah undang-undang diciptakan untuk menjamin kesejahteraan rakyat? Saya tidak paham mengapa begitu rumit regulasi di negara ini sehingga tidak bisa memfasilitasi dengan selayaknya mereka yang ingin berinovasi untuk kebaikan negeri. Padahal undang-undang diluar sana jauh lebih ‘njelimet’ dan detail daripada undang-undang yang dianut negara ini sampai-sampai hal yang terkesan remeh temeh pun diatur, namun regulasi yang ada disana bisa membuat mereka yang ingin berinovasi dapat terus berkembang dengan begitu mudahnya dan terfasilitasi dengan baik.

Semoga kejadian ini tidak mematikan semangat para inovator lain untuk tetap berkarya, dan juga tidak menyurutkan niat para jeniuswan-jeniuswati yang sedang mencari ilmu di luar negeri untuk kembali ke Indonesia dan berinovasi. Dan semoga, keputusan yang diberlakukan kepada Dr. Warsito dapat ditinjau kembali dan dicabut. Aamiiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s