Diary 2: Being a Teacher?


image

Saya sering mendapatkan pertanyaan seperti ini,

“Kenapa sih ngajar di sekolah? Ngga di bimbelan aja? Atau ngajar privat aja tapi dibanyakin jadwalnya? Kan lebih fleksibel waktunya, income nya bisa lebih gede pula.”

Atau ini,

“Gimana ngajar di sekolah? Bandel-bandel ga anak-anaknya? Enakan juga ngajar bimbel kali, ga mesti mikirin anak bandel.”

Gak salah sih pertanyaannya, cuma sedikit salah di persepsi tentang kata “ngajar” aja.

Ada baiknya kita baca terlebih dahulu UU no. 14 thn 2005 (silakan baca disini saja ya).

Ya, ini adalah landasan hukum mengenai peran dan fungsi guru dan dosen. Jadi jelas ya, bahwa guru (dan dosen) bukanlah pengajar seperti halnya tentor tentor di bimbel atau les privat, bukan juga fasilitator yang tugasnya memfasilitasi siswa (dan mahasiswa) dalam kegiatan belajar. Dalam UU tersebut terlihat bahwa peran guru (dan dosen) adalah pendidik, adalah orang-orang yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

*mulai deh idealismenya muncul halah*

Mari kita bedakan dua kata berikut: “pengajar” dan “pendidik”. Apa bedanya? Bedanya adalah, pengajar bukanlah pendidik, tetapi pendidik adalah juga pengajar *you know what I mean*.

Sekarang kembali lagi ke dua pertanyaan diawal yang cuma bisa bikin saya senyum getir. Semua orang tahu bahwa pekerjaan yang paling kecil gajinya adalah guru sekolah formal. Makanya gak heran juga banyak juga S.Pd S.Pd yang malah pada lari ke bimbel, salary nya lebih tinggi bro! Atau malah melupakan dunia profesi keguruannya dan lari ke bisnis, membuka lembaga bimbel dan privat baru. Lalu kalau sudah begitu, kira-kira bagaimanakah nasib pendidikan bangsa ini 10 tahun mendatang?

Pernahkah terlintas pertanyaan dalam kepala kita, mengapa di Inggris sana tidak ada yang namanya lembaga bimbel, misalnya? Atau di Jerman? Atau di Finlandia, yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang terbaik sedunia?

Sementara kualitas SDM Indonesia, hasil jerih payah ikut bimbel sana sini, itu masih saja kalah bersaing dengan SDM negara-negara yang saya sebutkan diatas, yang merupakan produk dari sistem pendidikan yang tanpa bimbel.

Mengapa?
Mengapa?
dan Mengapa?
*lol*

Jadi maksud saya, yang namanya lembaga bimbel itu gabisa disamain sama sekolah lah yaa.. karena orientasinya beda. Orientasinya bukan mencerdaskan kehidupan bangsa, melainkan sekedar meningkatkan kemampuan kognisi siswa dan orientasi bisnis semata. Sementara itu yang disebut cerdas, bukanlah kemampuan menyelesaikan 60 soal matematika dalam waktu 15 menit secara tepat, melainkan kemampuan mengkolaborasikan antara karsa, rasa dan cipta secara optimal.

Saya pribadi memimpikan suatu masa dimana bimbel dihapuskan di Indonesia, suatu masa dimana peran pendidikan benar-benar dimaksimalkan di sekolah, dimana guru menjalankan peran dan fungsinya dengan sebaik-baiknya sehingga siswa tak perlu lagi mencari tambahan jam belajar diluar sekolah, masa dimana SDM yang dihasilkan dari sekolah-sekolah di Indonesia adalah SDM yang siap bersaing mengingat sekarang ini AEC (Asean Economic Community) sudah resmi berjalan.

Maka menjadi guru (atau dosen) bagi saya adalah keharusan, bukan pilihan. Ini bukan soal gaji atau beban kerja, karena perkara rezeki sudah tertulis di laugh al-mahfuzh sana. Menjadi guru (atau dosen) adalah tentang meningkatkan kapasitas diri sebagai pendidik generasi penerus bangsa. Memang tidak mudah, terutama bagi saya yang bukan lulusan ilmu pendidikan, yang minim kemampuan pedagogik dan psikologis. Namun disitulah ruang bagi saya untuk belajar dan terus belajar meningkatkan kapasitas diri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s