Tahapan Jalan Menuju Sabar


city

Setiap kali mendatangi majelis ilmu, selalu ada hal yang menarik untuk difikirkan lebih jauh, yang membuat saya kemudian tak ingin melewatkan majelis pada pertemuan berikutnya. Ada satu bahasan yang sangat menggugah bagi saya dari majelis ilmu beberapa hari lalu. Waktu itu temanya lagi tentang do’a. Menarik sekali cara sang ustadz menyampaikan materi. Dalam membahas tema ini, tak lepas beliau mengaitkan dengan takdir dan sabar.

Berbicara takdir, yang membuat saya begitu fokus menyimak adalah, bahwa setiap apapun kejadian yang dialami oleh seorang mukmin adalah baik, sekalipun itu takdir buruk. Even misalnya, seorang yg beriman dgn sebenar-benarnya iman, ditakdirkan menderita penyakit ayan yang kita tahu bagaimana dahsyatnya penyakit tersebut jika sedang kambuh. Ia berdoa agar diberi kesembuhan, namun Allah mentakdirkan ia tetap menderita ayan sampai akhir usianya. Namun selama hidupnya ia bersabar atas ujian tersebut, maka ujian tersebut tetaplah baik. Mengapa?

Karena sebuah riwayat hadits menyebutkan bahwa, alangkah indahnya kehidupan seorang muslim, jika ia diberi kenikmatan maka ia bersyukur, dan jika diberi kesulitan, ia bersabar. Karena letak kebaikannya adalah pada syukur dan sabar. Tidak ada yg buruk bagi seorang yang beriman.  Ketika ia bersabar atas takdir yg buruk, maka sabar itu menunjukkan bahwa ada Allah swt. bersamanya, bahwa mampu bersabar itu adalah juga karunia Allah, bahwa ia yakin ada pahala menggunung sebagai balasan dari Allah atas kesabarannya.

Mungkin kita bertanya, mengapa Allah tidak angkat penyakit dari hamba yang telah sungguh-sungguh berusaha dan bersabar atas penyakitnya? Jawabannya, karena Allah tahu itu adalah yang terbaik untuknya. Allah ingin ia selalu mendekat kepada-Nya.

Sementara itu ustadz menjelaskan bahwa definisi sabar, adalah sebuah sikap yang tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan. Beliau merujuk pada sebuah ayat dalam surah Al-Ahzab: 35. Dalam ayat tersebut disebutkan kriteria-kriteria orang yang mendapat ampunan dan pahala yg besar, dimana ampunan & pahala yg besar adalah janji Allah kpd orang-orang yg bertakwa.

Bahwa ternyata, penyebutan kriteria secara berurutan dalam ayat tersebut, dimulai dari kriteria “innal muslimiina wal muslimaat” sampai pada kriteria terakhir “wadzdzaakiriinallaaha katsiiran wadzdzaakiraat” adalah bukan tanpa maksud. Kriteria-kriteria tersebut diurutkan dengan urutan demikian dengan maksud untuk menunjukkan bahwa terdapat level-level dalam mencapai predikat takwa.

Level pertama adalah “almuslimiin wal muslimaat“. Yakni, utk mencapai predikat takwa, seseorang haruslah menjadi muslim yg taat terlebih dahulu. Siapakah muslim yg taat? Yaitu mereka yg bukan hanya menjalankan 5 rukun Islam, tetapi mereka yg juga bersungguh-sungguh dalam menjalankan syari’at Islam tanpa terkecuali, tanpa berpikir untung rugi, tanpa mikir-mikir mau menjalankan yg ini aja yg itu gamau.

Kemudian kalimat yg kedua adalah “walmu’minuuna wal mu’minaat“. Kalimat ini menunjukkan bahwa, setelah seseorang ber-Islam dengan benar, maka selanjutnya ia harus beriman terhadap seluruh rukun iman. Ia tak lagi mempertanyakan hal-hal diluar logika akal, hal-hal yg hanya mampu dipahami oleh iman. Mungkin bisa diqiyaskan dgn kondisi seorang Abu Bakar ra. saat ia mengimani kerasulan Rasulullah saw. Coba bayangkan jika kita hidup di zaman itu. Ada seorang yg fakir, yatim piatu, buta huruf tak mampu membaca, bukan pejabat, tidak terkenal, bukan siapa-siapa, lalu tiba-tiba mengaku bahwa ia adalah nabi yg diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah. Akankan kita seperti Abu Bakar yg tanpa menyelidiki lebih lanjut, seketika mengatakan bahwa “ia benar”? Atau mengikuti logika yg mengatakan bahwa ia gila?
Itu baru satu contoh beriman kpd Rasulullah saw., belum iman kpd yg lainnya.

Kalimat berikutnya adalah “wal qaanitiina wal qaanitaat” yang berarti laki-laki & perempuan yg tetap dalam ketaatannya. Yaitu bahwa setelah ber-Islam dan beriman, selanjutnya adalah ihsan… Yakni adalah tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban sbg seorang muslim yg sekaligus juga seorang mu’min. Senantiasa selalu menjaga ketaatan dan izzah dirinya dimanapun ia berada, saat bersama org lain maupun saat sendirian.

Kemudian kalimat keempat adalah “wal mutashaddiqiina wal mutashaddiqaat“.  Ya! Setelah seseorang ber-Islam, beriman, dan berihsan, maka ia akan selalu berusaha mengikuti jalan kebenaran. Ia benci kepada maksiat, ataupun jalan-jalan yg membawanya ke arah maksiat. Ia selalu berusaha melakukan hal-hal yg benar saja dan menjauhi yg salah salah ataupun yg tidak bermanfaat bagi dirinya. Ia sedapat mungkin beramar makruf nahi mungkar. Hatinya condong kepada kebenaran.

Setelah melalui empat level tersebut, barulah seseorang memasuki level kelima, yakni “washshaabiriina washshaabiraat“. Yakni laki-laki dan perempuan yang bersabar di jalan Allah.

Maasyaa Allah… Cukup panjang tahapan yg harus ditempuh utk mampu menjadi seorang yg sabar dengan sebenar-benarnya sabar. Maka betapa kalimat “innallaaha ma’ashshaabiriin” itu sungguh bukanlah kalimat yg main-main. Benarlah Allah bersama orang-orang yg bersabar. Yaitu benarlah bahwa Allah bersama mereka yg telah bersungguh-sungguh menjalankan syari’at Islam, yg telah beriman tanpa sedikitpun ragu, yg telah istiqomah dlm ketaatan, dan yg hatinya senantiasa condong kepada kebenaran…

Kalimat kelima ini juga menunjukkan bahwa betapa Allah swt. ingin sekali selalu bersama dgn hamba-Nya yg beriman dan istiqamah dalam ketaatan. Dia ingin hamba-Nya dekat kepada-Nya, karena itulah Dia memberikan ujian hidup kepada hamba-Nya, agar ia bersabar, agar ia ingat dan mendekat kepada Allah disaat ujian itu menimpa. Yaa Allah, sungguh, betapa agung kalimat-Mu…

Bagaimana dengan kita?

Ada baiknya kita coba berkontemplasi. Muhasabah bukan hanya menghisab diri atas dosa yg telah dilakukan, tapi sudah berada di level manakah kita?

Jika saat ini masih banyak syari’at Islam yg kita lalaikan, iman susah naik tapi sering turun, belum bisa istiqomah dlm menjaga ketaatan, beramal kebaikan dan beribadah kalo lagi inget atau pengen aja, dan di hati kita masih ada kecondongan terhadap perbuatan maksiat, dan seterusnya… dan seterusnya…  dan kita asik asik aja karna hidup kita lurus lurus aja kayak jalan tol, ga ada ujiannya. Maka kita harusnya bertanya, mungkin kita memang belum pantas dikategorikan sebagai orang yg bersabar, yg dibersamai Allah swt. dimanapun dan kapanpun. Subhaanallah…

Semoga Allah swt. karuniakan kita hati yang bersih, yg dengannya kita mampu mencapai derajat takwa.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Masih ada 5 level selanjutnya untuk mencapai predikat takwa, tapi saya tidak ingin membahasnya disini karena saya hanya ingin sharing tentang bersabar atas takdir. *silakan buka sendiri Alqur’an masing-masing*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s