Sebutir Serbuk Nanopartikel


Malam itu saya merasa tergetar, benar-benar tergetar sampai tidak bisa tidur. Ceramah yang disampaikan seorang ustadz di majlis ilmu yang saya datangi malam itu telah membuat saya merasa betapa kehidupan di dunia ini tidak ada apa-apanya dan betapa diri ini hanyalah sebutir serbuk nanopartikel.

Ceramah malam itu membawa saya kepada kejadian mengagetkan beberapa waktu yg lalu. Ya, beberapa waktu lalu seorang teman baik saya dipanggil oleh-Nya. Saya kaget sekali, karena selama ini dia sehat-sehat saja, tidak ada riwayat penyakit, dan memang sedang tidak sakit. Ia meninggal begitu mendadak, membuat setiap orang yg mendengar berita kematiannya tersentak dan mengundang tanya:
“Serius??”
“Bercanda ya?”
“Eh, kok bisa begitu?”
“Dia kan sehat-sehat aja?”

Pun termasuk saya. Sulit dipercaya. Sedih sedalam-dalamnya. Lemas rasanya mendengar berita seorang yang sangat baik pada kita, yg dulu sering ngajarin dan jadi tempat kita bertanya kalo ada pelajaran yg sulit, yg selalu bisa bikin suasana bete jadi menyenangkan karena tawanya, yg sabaaar banget kalo kita bully, yg suka cengangas cengenges gajelas kalo lagi ngobrol rame-rame, yg selalu nyemangatin teman-teman yg lagi skripsi, tiba-tiba meninggal dengan cara yang tidak terduga.

Lemas sekali rasanya mendengar ia pergi selama-lamanya. Mengingat bulan Agustus nanti ia akan diwisuda Magister dengan predikat cumlaude, mengingat akhir tahun ini ia akan melangsungkan pernikahan, mengingat kebahagiaan-kebahagiaan hidupnya yg sebentar lagi bisa ia rasakan jika saja ia masih hidup… dan yang lebih membuat lemas, ketika saya mengingat Ramadhan tahun lalu, kami masih bisa melakukan ritual buka puasa bersama.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa hidup ini bisa berakhir dengan cara dan kondisi yang kita inginkan, di tempat yang kita mau, dan di waktu yang dimana kita sudah siap.

Bahwa Dia sangat berkuasa menentukan akhir dari cerita dari kehidupan seseorang seharusnya benar-benar bisa kita renungi…

Bahwa setinggi apapun cita yang ingin kita raih, ada kematian yang begitu dekat mengiringi. Maka rugi sekali jika impian hidup kita tidak ditujukan untuk kehidupan setelah kematian. Bahwa di dunia ini tidak ada yang bisa menyelamatkan akhirat kita, selain amalan-amalan shalih yang telah kita lakukan semasa hidup.

Bahwa seharusnya dalam beramal, yang harus kita lihat untuk kita bandingkan dengan diri kita adalah amalan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para shalafush shalih… Jangan dulu merasa sudah beramal jika menyamai ikhlasnya mereka dalam beramal saja kita belum mampu. Bagaimana kita tahu itu? Yaitu dari membaca shirah, dari mempelajari ilmu sedalam-dalamnya tentang bagaimana mereka melakukan amalan.

Jika mempelajari ilmu tentang itu saja belum mampu, lalu bagaimana mungkin kita bisa mencapai kesempurnaan dalam beramal? Mustahil.

Tertohok sekali rasanya… Saya yang teramat bodoh ini tak lain hanyalah sebutir dari serbuk nanopartikel. Sedikit sekali ilmu agama yang saya pahami, dan amat sedikit amalan shalih yang telah saya lakukan, yang bahkan saya sendiri tidak yakin amalan itu diterima atau tidak oleh-Nya. Lalu jika maut datang tiba-tiba gimana?? 😭😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s