Tahapan Jalan Menuju Sabar

city

Setiap kali mendatangi majelis ilmu, selalu ada hal yang menarik untuk difikirkan lebih jauh, yang membuat saya kemudian tak ingin melewatkan majelis pada pertemuan berikutnya. Ada satu bahasan yang sangat menggugah bagi saya dari majelis ilmu beberapa hari lalu. Waktu itu temanya lagi tentang do’a. Menarik sekali cara sang ustadz menyampaikan materi. Dalam membahas tema ini, tak lepas beliau mengaitkan dengan takdir dan sabar.

Berbicara takdir, yang membuat saya begitu fokus menyimak adalah, bahwa setiap apapun kejadian yang dialami oleh seorang mukmin adalah baik, sekalipun itu takdir buruk. Even misalnya, seorang yg beriman dgn sebenar-benarnya iman, ditakdirkan menderita penyakit ayan yang kita tahu bagaimana dahsyatnya penyakit tersebut jika sedang kambuh. Ia berdoa agar diberi kesembuhan, namun Allah mentakdirkan ia tetap menderita ayan sampai akhir usianya. Namun selama hidupnya ia bersabar atas ujian tersebut, maka ujian tersebut tetaplah baik. Mengapa?

Karena sebuah riwayat hadits menyebutkan bahwa, alangkah indahnya kehidupan seorang muslim, jika ia diberi kenikmatan maka ia bersyukur, dan jika diberi kesulitan, ia bersabar. Karena letak kebaikannya adalah pada syukur dan sabar. Tidak ada yg buruk bagi seorang yang beriman.  Ketika ia bersabar atas takdir yg buruk, maka sabar itu menunjukkan bahwa ada Allah swt. bersamanya, bahwa mampu bersabar itu adalah juga karunia Allah, bahwa ia yakin ada pahala menggunung sebagai balasan dari Allah atas kesabarannya.

Mungkin kita bertanya, mengapa Allah tidak angkat penyakit dari hamba yang telah sungguh-sungguh berusaha dan bersabar atas penyakitnya? Jawabannya, karena Allah tahu itu adalah yang terbaik untuknya. Allah ingin ia selalu mendekat kepada-Nya.

Sementara itu ustadz menjelaskan bahwa definisi sabar, adalah sebuah sikap yang tidak bisa dilakukan oleh orang sembarangan. Beliau merujuk pada sebuah ayat dalam surah Al-Ahzab: 35. Dalam ayat tersebut disebutkan kriteria-kriteria orang yang mendapat ampunan dan pahala yg besar, dimana ampunan & pahala yg besar adalah janji Allah kpd orang-orang yg bertakwa.

Bahwa ternyata, penyebutan kriteria secara berurutan dalam ayat tersebut, dimulai dari kriteria “innal muslimiina wal muslimaat” sampai pada kriteria terakhir “wadzdzaakiriinallaaha katsiiran wadzdzaakiraat” adalah bukan tanpa maksud. Kriteria-kriteria tersebut diurutkan dengan urutan demikian dengan maksud untuk menunjukkan bahwa terdapat level-level dalam mencapai predikat takwa.

Level pertama adalah “almuslimiin wal muslimaat“. Yakni, utk mencapai predikat takwa, seseorang haruslah menjadi muslim yg taat terlebih dahulu. Siapakah muslim yg taat? Yaitu mereka yg bukan hanya menjalankan 5 rukun Islam, tetapi mereka yg juga bersungguh-sungguh dalam menjalankan syari’at Islam tanpa terkecuali, tanpa berpikir untung rugi, tanpa mikir-mikir mau menjalankan yg ini aja yg itu gamau.

Kemudian kalimat yg kedua adalah “walmu’minuuna wal mu’minaat“. Kalimat ini menunjukkan bahwa, setelah seseorang ber-Islam dengan benar, maka selanjutnya ia harus beriman terhadap seluruh rukun iman. Ia tak lagi mempertanyakan hal-hal diluar logika akal, hal-hal yg hanya mampu dipahami oleh iman. Mungkin bisa diqiyaskan dgn kondisi seorang Abu Bakar ra. saat ia mengimani kerasulan Rasulullah saw. Coba bayangkan jika kita hidup di zaman itu. Ada seorang yg fakir, yatim piatu, buta huruf tak mampu membaca, bukan pejabat, tidak terkenal, bukan siapa-siapa, lalu tiba-tiba mengaku bahwa ia adalah nabi yg diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah. Akankan kita seperti Abu Bakar yg tanpa menyelidiki lebih lanjut, seketika mengatakan bahwa “ia benar”? Atau mengikuti logika yg mengatakan bahwa ia gila?
Itu baru satu contoh beriman kpd Rasulullah saw., belum iman kpd yg lainnya.

Kalimat berikutnya adalah “wal qaanitiina wal qaanitaat” yang berarti laki-laki & perempuan yg tetap dalam ketaatannya. Yaitu bahwa setelah ber-Islam dan beriman, selanjutnya adalah ihsan… Yakni adalah tetap istiqamah dalam menjalankan kewajiban sbg seorang muslim yg sekaligus juga seorang mu’min. Senantiasa selalu menjaga ketaatan dan izzah dirinya dimanapun ia berada, saat bersama org lain maupun saat sendirian.

Kemudian kalimat keempat adalah “wal mutashaddiqiina wal mutashaddiqaat“.  Ya! Setelah seseorang ber-Islam, beriman, dan berihsan, maka ia akan selalu berusaha mengikuti jalan kebenaran. Ia benci kepada maksiat, ataupun jalan-jalan yg membawanya ke arah maksiat. Ia selalu berusaha melakukan hal-hal yg benar saja dan menjauhi yg salah salah ataupun yg tidak bermanfaat bagi dirinya. Ia sedapat mungkin beramar makruf nahi mungkar. Hatinya condong kepada kebenaran.

Setelah melalui empat level tersebut, barulah seseorang memasuki level kelima, yakni “washshaabiriina washshaabiraat“. Yakni laki-laki dan perempuan yang bersabar di jalan Allah.

Maasyaa Allah… Cukup panjang tahapan yg harus ditempuh utk mampu menjadi seorang yg sabar dengan sebenar-benarnya sabar. Maka betapa kalimat “innallaaha ma’ashshaabiriin” itu sungguh bukanlah kalimat yg main-main. Benarlah Allah bersama orang-orang yg bersabar. Yaitu benarlah bahwa Allah bersama mereka yg telah bersungguh-sungguh menjalankan syari’at Islam, yg telah beriman tanpa sedikitpun ragu, yg telah istiqomah dlm ketaatan, dan yg hatinya senantiasa condong kepada kebenaran…

Kalimat kelima ini juga menunjukkan bahwa betapa Allah swt. ingin sekali selalu bersama dgn hamba-Nya yg beriman dan istiqamah dalam ketaatan. Dia ingin hamba-Nya dekat kepada-Nya, karena itulah Dia memberikan ujian hidup kepada hamba-Nya, agar ia bersabar, agar ia ingat dan mendekat kepada Allah disaat ujian itu menimpa. Yaa Allah, sungguh, betapa agung kalimat-Mu…

Bagaimana dengan kita?

Ada baiknya kita coba berkontemplasi. Muhasabah bukan hanya menghisab diri atas dosa yg telah dilakukan, tapi sudah berada di level manakah kita?

Jika saat ini masih banyak syari’at Islam yg kita lalaikan, iman susah naik tapi sering turun, belum bisa istiqomah dlm menjaga ketaatan, beramal kebaikan dan beribadah kalo lagi inget atau pengen aja, dan di hati kita masih ada kecondongan terhadap perbuatan maksiat, dan seterusnya… dan seterusnya…  dan kita asik asik aja karna hidup kita lurus lurus aja kayak jalan tol, ga ada ujiannya. Maka kita harusnya bertanya, mungkin kita memang belum pantas dikategorikan sebagai orang yg bersabar, yg dibersamai Allah swt. dimanapun dan kapanpun. Subhaanallah…

Semoga Allah swt. karuniakan kita hati yang bersih, yg dengannya kita mampu mencapai derajat takwa.

Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

Masih ada 5 level selanjutnya untuk mencapai predikat takwa, tapi saya tidak ingin membahasnya disini karena saya hanya ingin sharing tentang bersabar atas takdir. *silakan buka sendiri Alqur’an masing-masing*

Belajar Fiqh – Zakat Pencarian & Profesi (P&P)

“Wahai orang-orang yang beriman, keluarkanlah sebagian hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya Maha Terpuji.” (Q.S 2: 267)

Beberapa waktu lalu teman-teman kantor bertanya tanya soal rukun Islam yang keempat ini. Saya senang ternyata mereka sempet mikir kesitu, biar dari luar kelihatannya hedon, cuek sama masalah agama. Yak akhirnya! ini dia yang saya tunggu-tunggu… berdakwah di “dunia nyata”, dakwah profesi, dakwah yang sesungguhnya, bukan lagi “dakwah-dakwahan” di kampus yang objeknya homogen. Menghadapi objek dakwah di dunia profesional ternyata menyenangkan.. sangat menantang! kita harus siap mengeluarkan seluruh kecerdasan naqli dan aqli, dan di saat itulah, seluruh buku dan ebook tentang fiqh, tentang syariat, semua koleksi yang kita miliki, semuanya terasa sangaaaat sangat berguna..

Dan pada kesempata kali ini, zakat profesi -sesuatu yang lagi jadi trending topik obrolan kami di kantor, dan emang penting banget buat yang udah kerja dan udah punya penghasilan- mau saya share juga disini. Soal sumbernya, saya ambil dari fiqh zakatnya Yusuf Qardhawi yang terkenal sangat “mengerti” kondisi kekinian. Sila disimak. 🙂

Zakat harta pencarian dan profesi (P&P) memang tidak ditemukan contohnya dalam hadits, namun dengan menggunakan kaidah ushul fikih dapatlah harta P&P digolongkan kepada “harta penghasilan”, yaitu kekayaan yang diperoleh seseorang Muslim melalui bentuk usaha baru yang sesuai dengan syariat agama. Harta penghasilan itu sendiri dapat dibedakan menjadi :

(1)  Penghasilan yang berkembang dari kekayaan lain, misalnya uang hasil menjual poduksi pertanian yang sudah dikeluarkan zakatnya 10% atau 5% yang tentunya uang hasil penjualan tersebut tidak perlu dizakatkan pada tahun yang sama karena kekayaan asalnya (produksi pertanian tsb) sudah dizakatkan.  Ini untuk mencegah terjadinya apa yang disebut double zakat.

(2) Penghasilan yang berasal karena penyebab bebas, seperti gaji, upah, honor, investasi modal dll  (Insya Allah, pembahasan kita akan berkisar pada jenis harta penghasilan yang kedua ini).  Karena harta yang diterima ini belum pernah sekalipun dizakatkan, dan mungkin tidak akan pernah sama sekali bila harus menunggu setahun dulu.

Perbedaan yang menyolok dalam pandangan fikih tentang harta penghasilan ini, terutama berkaitan dengan adanya konsep “berlaku setahun” yang dianggap sebagai salah satu syarat dari harta yang wajib zakat.

Sebagian pendapat mengungkapkan syarat ini berlaku untuk semua jenis harta, tapi sebagian lainnya mengungkapkan syarat ini tidak berlaku untuk seluruh jenis harta, terutama tidak berlaku untuk jenis harta penghasilan. Selama diberlakukan juga ketentuan berlaku setahun itu untuk jenis harta penghasilan, maka akan sulit untuk melaksanakan kewajiban zakat untuk harta penghasilan ini. Kelompok terakhir ini berpendapat, bahwa zakat penghasilan ini wajib dikeluarkan zakatnya langsung ketika diterima tanpa menunggu waktu satu tahun. Diantara kelompok terakhir ini adalah: Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Muawiyyah, dll, juga Umar bin Abdul Aziz.

Pendapat mana yang lebih kuat tentang kedudukan zakat P&P ini?

Yusuf Al-Qaradhawy menelaah kembali hadits-hadits tentang ketentuan setahun ini dimana dijumpai ketentuan tersebut ditetapkan berdasar empat hadits dari empat shahabat, yaitu: Ali, Ibnu Umar, Anas dan Aisyah ra. Diantaranya berbunyi sbb:

Hadits dari Ali ra. dari Nabi SAW: “Bila engkau mempunyai 200 dirham dan sudah mencapai waktu setahun, maka zakatnya adalah 5 dirham, …… ”

Hadits dari Aisyah ra, Rasulullah pernah bersabda : “Tidak ada zakat pada suatu harta sampai lewat setahun”.

Tetapi ternyata hadits-hadits itu mempunyai kelemahan-kelemahan dalam sanadnya sehingga tidak bisa untuk dijadikan landasan hukum yang kuat (hadits shahih), apalagi untuk dikenakan pada jenis “harta penghasilan” karena akan bentrok dengan apa yang pernah dilakukan oleh beberapa shahabat. Adanya perbedaan pendapat di kalangan para shahabat tentang persyaratan setahun untuk zakat penghasilan juga mendukung ketidak shahihan hadits-hadits tsb.

Bila benar hadits-hadits tersebut berasal dari Nabi SAW, maka tentulah pengertian yang dapat diterima adalah: “harta benda yang sudah dikeluarkan zakatnya tidak wajib lagi zakat sampai setahun berikutnya”. Zakat adalah tahunan.

Beberapa riwayat sahabat seperti Ibnu Mas’ud, menceritakan bagaimana harta penghasilan langsung dikeluarkan zakatnya ketika diterima tanpa menunggu setahun. Sehingga menjadi semakin jelas bahwa masa setahun tidak merupakan syarat, tetapi hanya merupakan tempo antara dua pengeluaran zakat. Setelah mengadakan studi perbandingan dan penelitian yang mendalam terhadap nash-nash yang berhubungan dengan status zakat untuk bermacam-macam jenis kekayaan, juga dengan memperhatikan hikmah dan maksud PEMBUAT SYARIAT yang telah mewajibkan zakat, dan diperhatikan pula kebutuhan Islam dan ummat Islam pada masa sekarang ini, maka Yusuf Al-Qaradhawy berpendapat bahwa harta hasil usaha seperti: gaji pegawai, upah karyawan, pendapatan dokter, insinyur, advokat, penjahit, seniman, dllnya wajib terkena zakat dan dikeluarkan zakatnya pada waktu diterima.

NISAB DAN BESARNYA ZAKAT PENCARIAN DAN PROFESI

Setelah menetapkan harta penghasilan dari pencarian dan profesi adalah wajib zakat, yusuf Al-Qaradhawy menjelaskan pula berapa besar nisab buat jenis harta ini, yaitu 85 GRAM EMAS seperti hal besarnya nisab uang. Demikian pula dengan besarnya zakat adalah seperempatpuluh (2.5%) sesuai dengan keumuman nash yang mewajibkan zakat uang sebesar itu.

Persoalannya adalah, orang-orang yang memiliki profesi itu menerima pendapatan mereka tidak teratur, bisa setiap hari seperti dokter, atau pada saat-saat tertentu seperti seorang advokat, kontraktor dan penjahit, atau secara regular mingguan atau bulanan seperti kebanyakan para pegawai.

Bila nisab di atas ditetapkan untuk setiap kali upah, gaji yang diterima, berarti kita akan membebaskan kebanyakan golongan profesi yang menerima gaji beberapa kali pembayaran dan jarang sekali cukup nisab dari kewajiban zakat. Sedangkan bila seluruh gaji itu dalam satu waktu tertentu itu dikumpulkan akan cukup senisab bahkan akan mencapai beberapa nisab.

Adapun waktu penyatuan dari penghasilan itu yang dimungkinkan dan dibenarkan oleh syariat itu adalah satu tahun. Dimana zakat dibayarkan setahun sekali. Fakta juga menunjukkan  bahwa pemerintah mengatur gaji pegawainya berdasarkan ukuran tahun, meskipun dibayarkan per bulan karena kebutuhan pegawai yang mendesak.

Jangan lupa bahwa yang diukur nisabnya adalah penghasilan bersih, yaitu penghasilan yang telah dikurangi dengan kebutuhan biaya hidup terendah atau kebutuhan pokok seseorang berikut tanggungannya, dan juga setelah dikurangi untuk pembayaran hutang (ini hutang bukan karena kredit barang mewah lho, tapi karena untuk memenuhi kebutuhan pokok/primer seperti halnya bayar kredit rumah BTN, hutang nunggak bayaran sekolah anak, dll).

Bila penghasilan bersih itu dikumpulkan dalam setahun atau kurang dalam setahun dan telah mencapai nisab, maka wajib zakat dikeluarkan 2.5% nya. Bila seseorang telah mengeluarkan zakatnya langsung ketika menerima penghasilan tsb (karena yakin dalam waktu setahun penghasilan bersihnya akan lebih dari senisab), maka tidak wajib lagi bagi dia mengeluarkannya di akhir tahun (karena akan berakibat double zakat).  Selanjutnya orang tsb harus membayar zakat dari penghasilan tsb pada tahun kedua dalam bentuk kekayaan yang berbeda-beda.

Berikut ini cara simple untuk kalkulasi yang bisa digunakan:

Penerimaan kotor selama setahun: A
Kebutuhan pokok setahun: B
Hutang-hutang yang dibayar dalam setahun: C
Penghasilan bersih setahun: A-(B+C) = D
Bila D > atau = dengan nilai 85 gram mas, maka wajib zakat yaitu 2.5% X D.
Bila D < nilai 85 gram emas, maka tidak wajib zakat.

Jadi bila kita yakin bahwa perkiraan besarnya D yang kita miliki dalam setahun adalah lebih besar dari 85 gram emas, maka kita tidak perlu lagi ragu-ragu mengeluarkan zakat langsung ketika diterima. Misalnya dari gaji bulanan diambil 2.5 % dari D/12 (karena perbulan).

Bila disamping gaji bulanan kita memperoleh tambahan penghasilan lain dari profesi kita, misalnya, saya kerja sebagai karyawan tetap di Gulaku, tapi disamping itu saya juga ngajar privat. Misalkan memperoleh sebesar E dari hasil ngajar dalam setahun, maka zakatnya adalah 2.5 % x (D+E), karena seluruh kebutuhan B dan C sudah tercover sebelumnya yang menghasilkan D.

Begitulah sekilas ilmu tentang zakat pencarian dan profesi. Semoga bisa bermanfaat buat yang udah punya penghasilan. Mari kita laksanakan rukun Islam yang keempat ini, jangan ditahan, karna ada hak orang lain di dalam harta kita. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur atas segala nikmat harta yang Dia berikan. 🙂

La insyakartum, la aziidannakum

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

“La insyakartum la aziidannakum, wala inkafartum inna ‘adzaabii lasyadiid..”

Saya suka banget bunyi ayat diatas, dan ternyata Allah itu sangat menepati janji-Nya. 🙂

Ketika kita bersyukur dengan nikmat yang Allah beri saat ini, maka pasti deh, abis itu datang lagi dan datang terus dan terus datang lagi nikmat nikmat selanjutnya… dan atas segala nikmat yang datang terus terusan itu, rasanya haru banget, betapa Allah sangat amat Maha Pengasih dan Maha Penyayang, betapa rasanya Allah sangat berlebihan mendatangkan segala nikmat itu.. rasanya apa yang Allah beri kepada kita itu sangat gak sesuai dengan apa yang sudah kita lakukan untuk Allah selama ini: banyak lalainya, banyak malesnya, banyak excuse, banyak dan baaaanyak sekali khilaf… Betapa sesak rasanya dada ini, sesak karna rasa syukur yang gak terbendung, dan akhirnya membuat kita merasa begitu lemah dihadapan-Nya, begitu mudah menitikkan air mata di sepertiga malam, hanya dihadapan-Nya… Dan setelah itu, rasa damai hadir di hati, seolah gak ada yang perlu dikhawatirkan dan ditakuti, seolah semuanya akan ringan dihadapi. Allah menghilangkan segala rasa khawatir itu, dan menggantinya dengan kedamaian. Ada rasa yakin di hati kita bahwa Allah akan memudahkan segalanya dan itu membuat kita tentram. Nikmat sekali rasanya…

Rabbi au zi’nii an asykura ni’matakallatii an ‘amta ‘alayya, wa ‘alaa waalidayya, wa an a’mala shaalihan tardhaahu wa adkhilnii birahmatika fii ‘ibaadikash shaalihiin.

(Ya Rabb-ku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba Mu yang shalih.)

Aamiin.

Murottal Abu Usamah

Saya nemu murottal ini waktu lagi iseng buka-buka blog moslemsunnah waktu lagi gugling cari artikel tentang apa gitu, saya lupa. Di blog itu ada link download Murottal Abu Usamah Radio Rodja, trus saya klik, terus saya coba download satu surat Al-Mulk, terus saya dengerin… Saya tertarik untuk klik link itu karna rasanya, gak ada nama Abu Usamah di quranicaudio, web tempat download murottal lengkap berbagai versi. Saya cobain satu dan… ya ampunnn, empuk banget suaranya… adem di kuping… damai di hati… saya langsung jatuh hati sama murottal ini!

Ternyata si Abu Usamah ini emang bukan syekh-syekh yang biasa bikin murottal. Ternyata dia orang Indonesia, ustadz, hafizh, dan emang terkenal dengan suaranya yang bagus.. masya Allah, super kece! dan ternyata, Abu Usamah ini masih muda, baru 25 tahun… pantes suaranya nyesss banget gituu, *haduuuuu nge-fans berat !!!

Buat yang mau dengerin, sila di download di sini 🙂

Sayang beribu sayang, cuma ada juz 29 sama 30 doaang. Saya udah cari-cari lengkapnya dimana mana, gak nemu! Ternyata dia emang cuma ngeluarin juz 29 30 aja, sama juz 1. Ah, coba ada juz 28, pasti saya jadi semangat menghafal.. #eaaaa hahhaha. Tapi gapapa biarpun cuma 2 juz terakhir, lumayan bikin semangat muroja’ah. 😛

Selamat menikmati! 🙂

Dzulhijjah is coming !

reblog dari wp seseorang. bagus! 🙂

Eka's Voyage

haji ayah anak

Postingan ini adalah reminder untuk diriku sendiri akan keistimewaan dan amalan-amalan yang disunnahkan selama bulan Dzulhijjah,  dan juga sebagai wujud sharing ke sesama muslim, sharing is caring, right ???.

Karena bulan Dzulhijjah sudah datang berarti sebentar lagi kita melaksanakan ibadah Qurban, ayo masih ada kesempatan beli kambing, sapi, kalo ada kemampuan qurban unta juga boleh. Hehehe. Sebentar lagi hari raya Idul Adha, boleh makan ketupat dengan rendang sepuasanya, karena mamak bakalan masak banyak. Horeeee !. Ohya, semoga saudara-saudara kita di tanah Haram yang melaksanakan ibadah haji diterima amal ibadahnya, dan menjadi haji yang mabrur. Kembali pulang ke tanah air menjadi pribadi yang lebih baik, InsyaAllah.

Dzulhijjah adalah bulan yang istimewa, salah satu bulan yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Banyak sekali keutamaan di bulan Dzulhijjah, untuk lebih lengkap dan shahihnya silahkan baca DISINI YAA…

Rasulullah bersada tentang keistimewaan bulan Dzulhijjah ini,

مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى…

Lihat pos aslinya 442 kata lagi

Antara kita dan Rasulullah

Iseng-iseng bermanfaat..

Hari ini saya lagi random banget, liat-liat semua file-file lama di laptop.. file foto, film, anim, e-book, artikel, video… lalu tiba-tiba menemukan satu artikel bagus tentang Rasulullah, sang suri tauladan kita.. Sekedar ingin membagi, kalau benar kita mengaku ummatnya, semestinya kita mengenal betul siapa sih Rasul kita itu.. 🙂

————————————————

muhammad my prophet

Nabi Muhammad tingginya sedang-sedang saja, agak kurus, namun bahunya lebar, berdada bidang, bertulang dan berotot kokoh. Rambutnya terurai hampir ke pundaknya, berwarna hitam pekat dan sedikit ikal. Meskipun lanjut usianya, beliau cuma memiliki kira-kira 20 lembar uban saja, itu pun barangkali karena beban yang beliau emban saat menerima “wahyu Allah”. Wajahnya yang jernih berbentuk bulat telur, agak memerah kekuning-kuningan. Alisnya melengkung panjang, yang mendebarkan setiap yang memandang. Bola matanya yang hitam bundar terbingkai bulu-bulu tebal dan panjang, tampak bersinar cemerlang. Nabi suci berhidung mancung namun estetis, giginya selalu diurus rajin berderet rapi, seputih mutiara. Wajahnya penuh janggut sehingga tampak jantan. Kulitnya lembut dan bersih, berwarna campuran merah-putih. Tangannya halus laksana sutra, nyaris melebihi tangan seorang gadis. Langkahnya cepat dan luwes, namun berat, bagai makhluk yang bergerak dari tempat tinggi ke tempat rendah. Andai menengokkan wajahnya, beliau juga membalikkan seluruh tubuhnya. Segenap gerak-gerik dan kehadirannya terpuji dan mengandung kharisma. Ekspresinya halus kesendu-senduan. Dan tawanya lebih jarang ketimbang senyumnya yang ramah.

Para pejuang kebenaran yang sejati!. Barangkali tak kurang di antara kita secara fisik yang bersosok mirip-mirip Rasulullah. Namun sayang sejuta sayang, Rasulullah tawanya lebih jarang ketimbang senyum ramahnya, sebaliknya kita bahkan sering terlampau banyak tertawa cekakakan kolokan, sambil malas memberikan senyum ramah terhadap orang lain, disebabkan oleh sifat sombong dan takabur.

Selanjutnya Rasulullah dilukiskan bahwa meskipun telah memiliki kekuasaan penuh di negerinya, dihormati oleh segala lapisan masyarakat, makan-minumnya, perabot rumah tangganya, bahkan segenap kebiasaan hidupnya sungguh amatlah sederhana. Namun sebaliknya, kita baru saja memiliki kekuasaan secuil, hidup sudah ingin mewah, makan-minumnya ingin yang mahal-mahal, cara hidup disulap menjadi ala Minak Jinggo. Feodalisme kedodoran, ditata secara jor-joran.

Dari sejarah Islam yang tak terselewengkan, tersimak bahwa Rasulullah merupakan pelindung yang amat dipercaya oleh segenap umat yang dilindunginya. Bedanya dengan kita, tidak jarang kita ini sok melindungi rakyat, padahal kenyataannnya sebaliknya, memeras rakyat secara halus, demi kejayaan dunia yang sementara.

Rasulullah merupakan pribadi yang anggun dan amat pendiam. Namun, andai beliau berkata, tekanannya pasti dan jujur sehingga melontarkan wibawa terhadap siapa yang mendengarnya. Sebaliknya, kita-kita ini kadang terlampau banyak mengoceh tanpa isi, yang menurut kata peribahasanya “tong kosong nyaring bunyinya !”. Karena terlampau banyak ngoceh, boro-boro wibawa muncul, sebab isi ocehannya tak sama dengan wujud amalannya.

Keindahan pribadi Rasulullah semakin tampak pula karena sedikit makanan yang didapatnya senantiasa dibaginya kepada siapa pun yang kebetulan lewat dan membutuhkannya. Di luar rumah beliau, ada serambi yang senantiasa dipenuhi oleh fakir-miskin yang sepenuhnya hidup dari welas-asih beliau. Namun sayang, sebaliknya kita yang penuh makanan terkadang lupa kepada sang fakir yang lapar. Boro-boro membikin serambi bagi fakir-miskin, didekati orang yang berpakaian compang-camping saja, standing kita terasa anjlok ke comberan. Duit receh bagian para manusia papa lebih asyik dibelanjakan ice cream yang segar lezat ketimbang digusur hidup tak subur.

Santapan Rasulullah sehari-hari sekedar kurma dan air atau roti tawar. Madu dan susu merupakan minuman yang disukainya, namun amat jarang ternikmati (oleh beliau) karena dianggap mewah. Sebaliknya, kita terkadang uring-uringan ngambek andai makan tak ada lauk-pauknya yang enak, kendati penghasilan teramat minim. Akhirnya yang melanda kita-kita ini “lebih besar pasak daripada tiang”, segala penyakit nemplok di badan gara-gara utang bergudang-gudang.

Selama hidupnya, Rasulullah hampir tak pernah memukul siapa pun. Ucapan yang paling kasar yang pernah terlontar dari mulut beliau ialah “semoga dahinya berlumuran lumpur”. Tatkala diminta untuk mengutuk seseorang, beliau bahkan menjawab, “Aku diutus bukanlah untuk mengutuk seseorang, namun justru untuk mendoakan umat manusia.” Sebaliknya pukul-memukul bagi kita merupakan “pekerjaan tangan” sehari-hari, terutama memukul anak. Ucap sumpah Nabi yang dirasanya paling kasar, bahkan sebaliknya bagi kita itulah yang dirasakan paling halus. Sebelum mengucapkan kata “bedebah”, “setan”, atau “kunyuk”, rasanya sumpah-serapah kita terhadap orang lain belumlah afdol.

Terhadap orang-orang besar, Rasulullah bersikap sopan. Dan pula terhadap si kecil, keramah-tamahannya teramat mulia. Sebaliknya, kita terkadang cuman sopan dan hormat terhadap orang-orang besar karena butuh akan koneksinya. Namun terhadap si kecil yang tidak dibutuhkan, persetan penghormatan!.

Para pejuang kebenaran yang sejati!. Nabi Besar Muhammad Rasulullah senantiasa besar perhatiannya terhadap alam ini, yang tampak maupun yang tidak tampak, kendati beliau tunaaksara. Sebaliknya, kita yang pinter baca, gara-gara waktu cuma dihabiskan guna menumpuk-numpuk harta, alam tak terperhatikan sejengkal pun, tafakur menjadi tumpul, syukur menjadi kufur!.

Selanjutnya, meskipun Rasulullah telah berhasil menguasai jazirah Arab, sepatu atau gamisnya yang sobek, masih saja dijahitnya sendiri, memerah susu sendiri, menyalakan perapiannya juga sendiri. Kita terkadang sebaliknya, baru menjadi penguasa yang sedeng-sedeng saja, pembantu minta lusinan. Segalanya pakai pembantu, cuma cebok saja yang tidak. Kita, sobek sepatu sedikit, lempar ke tempat sampah, takut kehilangan prestise diri. Malu palsu semarak di kalbu!.

Bila melakukan perjalanan jauh, beliau membagi suapan dengan pembantunya. Kita juga sering membagi, namun yang kita bagi adalah perbedaan. Andai kita menikmati goreng ayam kalkun, pembantu mah cukup disodori ikan asin saja plus sambel oncom!.

Muhammad Rasulullah amat ketat dengan dietnya lewat berpuasa penuh kerelaan. Sebaliknya kita, diet dilaksanakan karena penyakit meraja-lela. Jadi, diet kita adalah diet yang terpaksa, bukan diet yang bernilai ibadah. Oleh sebab dietnya penuh ketidak-relaan, maka sumpeklah jiwa, nesu menggebu… membarakan angkara murka!.

Dalam kehidupan pribadinya, Rasulullah amat bijaksana. Diperlakukannya sahabat atau bukan, kaya atau miskin, kuat atau lemah, secara adil. Sebaliknya kita, termasuk saya, sering iseng membikin-bikin kebijaksanaan mendadak demi harga diri. Si kaya, kita beri tempat paling depan. Si miskin, biar gek-sor di lantai lembab. Si lemah biarlah mampus. Keadilan cuma buat segelintir orang!.

Kemenangan militer beliau tidak menyebabkan adigung-adiguna, rasa sombong atau ingin megah, karena niat perjuangannya adalah untuk kemaslahatan bersama. Oleh sebab itu, Rasulullah tak suka mendapat semacam penghormatan protokoler yang dibikin-bikin. Namun, tak sedikit di antara kita yang sebaliknya, karena kita telah ketularan gila puji. Perjuangan kita terkadang diniati demi kedigjayaan kita sendiri, bukan niat demi kebenaran Tuhan. Oleh sebab kita sudah gila puji, maka penghormatan protokoler pun seakan menjadi idaman bagi setiap yang kuasa. Hidung mereka bangga, pundak ditarik ke langit, tatkala setiap orang berdiri keirei menyambut kedatangan kita dengan takzim, sehingga kita lupa akan rukuk dan sujud terhadap Yang Agung.

Kehidupan Rasulullah amatlah realistis. Beliau berkuasa bukanlah untuk mendandani kekuasaannya, melainkan untuk menyelamatkan umatnya dari kebodohan. Sebaliknya, terkadang kita tidak realistis, dikarenakan berkuasa cumalah demi segembung perut. Kekuasaan kita terkadang bukan demi menghilangkan kebodohan, melainkan sebaliknya untuk membodohi umat.

Rasulullah tinggal bersama istri-istrinya, yang dinikahinya dengan jiwa sosial itu, dalam sebuah pondok kecil yang amat sederhana beratap jerami. Tiap-tiap kamar dipisah dengan pohon-pohon palma yang direkat dengan lumpur. Sebaliknya, istri-istri kita yang denok demplon, yang dinikahi berdasarkan nafsu birahi belaka, disimpan di istana-istana mungil, di villa-villa mewah di tepi perbukitan, dengan masing-masing dihadiahi mobil-mobil luks yang mengkilap, demi saling tutup mulut, demi perdamaian antar bini.

Masih banyak sebenarnya kepribadian Rasulullah yang amat terpuji. Namun, satu lagi saja yang perlu disampaikan, yakni ketulusan dan keikhlasan dirinya dalam menganjurkan kebajikan dan kesederhanaan, yang telah dibuktikannya secara gamblang tatkala beliau wafat. Ternyata beliau tidak meninggalkan warisan harta secuil pun. Yang ditinggalkannya cumalah “warisan ketauhidan”. Sayang, kita yang masih jauh dari ketakwaan ini melakukan sebaliknya. Berkat kerja menumpuk-numpuk kekayaan, warisan yang bergudang-gudang malah memancing perang campuh antar ahli waris. Rebutan warisan yang kerap terjadi, boro-boro menyimpulkan kuat talinya silaturrahmi, melainkan (menyebabkan) sakinah acak-acakan, saudara sekandung malah menjadi musuh bebunyutan!!

Mudah-mudahan saja perbedaan yang menyolok ini tak tampak di masa-masa mendatang.

——————————————————

[Disarikan dari Tafakur Di Galaksi Luhur, Dedi Suardi, hal. 175-179]

Time is yours! :)

Start-with-dreamsource: www.manyquote.com

 

Soal menghargai waktu, saya suka banget kalimat Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah:
“Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi dan penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung). Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Kalimat ini juga yang saya sampaikan saat mengisi halaqah tadi, karna menjelang ramadhan ini rasanya penting juga ngebahas soal waktu.

Apa yang membuat waktu kita begitu produktif? atau waktu kita terbuang dengan percuma?

untuk menjawab ini, mari tanyakan ke diri masing-masing: apa motif hidup kita?

Setiap orang pasti punya motif hidup, punya target yang ingin dicapai. Targetnya macam2, ada yang positif, ada yang negatif. Bisa jadi dua jenis target itu bercampur, menjadi motif hidup seseorang. Produktif atau tidaknya waktu yang diberikan oleh Allah, tergantung mana yang lebih dominan, target-target positif atau negatif?

Kalo motifnya lebih banyak kearah negatif, maka gak heran kalo ada orang yang kayaknya hidupnya gak meaning banget, waktunya abis cuma buat hal-hal sepele kayak misalnya: ngoleksi game, ngoleksi anim, ngoleksi komik, main PS berjam-jam, pacaran, dan banyak lagi. Buat orang-orang macem ini, kayaknya suatu prestasi banget kalo bisa ngoleksi sebanyak mungkin game, anime, atau komik, prestasi banget kalo bisa main PS nyampe ke level tertinggi dengan nilai dewa yang ga ada yg bisa ngalahin, prestasi banget kalo bisa dapet cowok kece yang setia dan mau melakukan apa aja buat dia. Motifnya cuma untuk kesenangan dunia, ngga lebih dan ngga kurang. Jadi ya emang, mereka rela dan bangga menghabiskan waktu buat melakukan hal-hal duniawi itu.

Nah, sebaliknya, kalo motifnya lebih banyak ke arah positif, maka akan kita dapati fenomena orang-orang yang ‘adem’ gitu ngeliatnya, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk misalnya: nghafal Al-Qur’an atau hadits, rajin sholat dhuha, rajin ngasih tausiyah, belajar, baca buku bermanfaat, berkarya sesuai bidangnya dia, bikin paper, ikut-ikut kegiatan sosial, menulis, ikut-ikut kompetisi sesuai passionnya dia, berwirausaha, dan banyak lagi… Orang-orang macem begini bukan berarti gak pernah santai-santai atau gak kenal hiburan. Ada kalanya mereka juga punya waktu untuk senang-senang, punya target negatif. Tapi target-target negatifnya kalah banyak sama target-target positif, atau target-target negatifnya bukan jadi target utama, cuma sebatas sarana refreshing nya dia aja. Motifnya itu mencari dan memberi sebanyak mungkin manfaat. Motif untuk memperoleh ridha Allah. Maka seiring bertambah usia, semakin banyak juga yang mereka hasilkan.

Jadi, termasuk kategori yang manakah kita?

Sebetulnya kalo kita cerdas, kalimat ini, “…..Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya…” itu udah tokcer banget.

Beribadah kepada Allah itu kan banyak macemnya. Jangan dibayangkan kalo udah ngomong ibadah ya itu sebatas sholat, ngaji, sedekah, puasa.. Ibadah, berarti mengabdi, wujud penghambaan, wujud cinta kepada Allah. Jadi segala sesuatu yang kita lakukan dengan niat ikhlas mengabdi kepada Allah, dengan tujuan menjalankan segala sesuatu yang Allah cintai, dan menimbulkan rasa cinta kita kepada Allah, maka itu adalah amalan ibadah.

Ternyata semudah itu menghargai waktu.

Sekarang berhubung mau ramadhan, alangkah baik kalo kita bikin target-target positif yang ingin dicapai selama sebulan kedepan.. biar waktu kita gak habis percuma. Motifnya tetap sama, untuk meraih ridha Allah. Karna, kalo baca fiqh-nya, ramadhan itu bulan yang… masya Allah. Istilah bulan ramadhan bulan penuh berkah itu memang bukan sesuatu yang lebay. Karna memang benar kok, mau melakukan kebaikan apapun selama di bulan itu, balasan pahalanya gak sebanding sama amalan yang dilakukan, istilahnya, kebaikan sebesar debu dibalas dengan pahala segunung emas.

So, let’s worth this given time properly 🙂

Mari ber-ramadhan ria! Mari menjadi sebaik-baik ummat. 🙂