Kisah Gadis Dalam Pingitan

Seorang ibu menelepon anak gadisnya di seberang kota sana, hanya untuk memastikan ia tak pergi kemana-mana. Atau jikapun ia pergi ke suatu tempat, si ibu tahu bahwa sang ayah tak keberatan anak gadisnya pergi ke tempat tersebut. Sang gadis tahu, mengapa ayah dan ibunya bersikap demikian. Namun ia tetap tak mengerti, mengapa di zaman serba sibuk seperti sekarang tradisi “pingit” masih berlaku? Karena yang ia tahu, ia harus pergi, ke suatu tempat, yang benar-benar bisa membuatnya melupakan sejenak segala beban pikiran yang ada dikepalanya.

Ia sangat tak setuju dengan tradisi tersebut. Baginya, itu sangat tak rasional. Bagaimana mungkin seseorang yg hidupnya dipenuhi aktivitas seperti dirinya, tidak boleh pergi kemana-mana? Karena tanpa berkelana, hidup jadi hampa terasa olehnya. Ia merasa dunia sangat tidak adil dengan adanya tradisi yang menyebalkan itu. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Yah, aku bosan dengan kondisiku yg seperti ini… Beri aku izin Yah, sekaliii saja untuk pergi kemanapun aku mau.” Pinta si gadis pada ayahnya.
“Tidak, Nak.” Jawab sang ayah singkat.
Si gadis cemberut. Jawaban itu tiba-tiba saja membuatnya merasa seperti berada didalam penjara. Ia sedih…

Kemudian ia datang pada ibunya. Ia merengek sejadi-jadinya.. Mengadukan, mengapa harus seperti itu caranya, mengapa ayah merampas kebebasan hidupnya, mengapa tradisi pingit harus ada, dan mengapa harus selama itu ia dipingit?

Sang ibu, dengan segala kelembutan dan kebijaksanaannya menjawab,
“Kamu lihatlah ayahmu, tidakkah kamu rasakan rasa rindu ayah kepadamu? Ayah ingin disaat-saat seperti ini, kamu bisa terus berada didekatnya, berada dalam pantauannya. Jikapun kamu ingin pergi ke suatu tempat, ayah berharap tempat yg sangat ingin kamu singgahi itu adalah rumah ayah. Jika saatnya tiba, kamu mungkin bisa kembali bebas dengan hidupmu, namun mungkin tak lagi bisa bebas menemui ayah.”

Mendengar penjelasan ibu, ada sungai kecil yang hangat mengalir di pipi si gadis. Seperti air matanya, hatinya meleleh dibuatnya. Jawaban sang ibu membuatnya mengerti apa arti dari sebuah tradisi menyebalkan yang ia benci. Ia pun diam, tidak lagi menanyakan perihal pingit kepada ayah ataupun ibu.

Ayahku

Usianya sudah kepala lima. Sudah punya cucu satu. Putih-putih di rambutnya memang sudah tidak bisa menipu, namun fisiknya masih sebegitu segar terlihat layaknya lelaki paruh baya. Giginya masih lengkap tersusun rapi. Raut wajahnya masih sama dengan raut wajah yang selalu aku lihat sejak aku dapat mengingat. Cara berjalannya masih sama tegap. Hanya saja usia membuatnya lebih sering bercerita bahwa dirinya lebih mudah lelah setelah beraktivitas seharian.

Aku selalu khawatir setiap kali menjelang pergantian tahun dimana usiaku (insyaa Allah) tidak lama lagi akan segera bertambah. Bukan, bukan aku khawatir terhadap diriku sendiri. Tapi yang kukhawatirkan adalah ketika melihat dirinya yang juga semakin bertambah usianya kelak (insyaa Allah). Aku selalu takut melihatnya menua, walau sejatinya setiap manusia pasti akan bertambah tua.

Aku takut sekali akan suatu masa dimana aku melihat gigi-giginya tak lagi lengkap, sedang disaat itu aku tidak bisa selalu berada disampingnya. Aku khawatir sekali ia cemburu melihatku mencurahkan perhatian kepada seseorang yang lebih berhak atasku nanti, sementara dirinya yang senantiasa memberikan kasih sayangnya kepadaku seumur hidupnya, semakin renta dan butuh diperhatikan pula.

Ayahku, yang teramat aku cintai…

Sungguh waktu berlalu begitu cepat…

Sungguh rasanya aku ingin selalu menjadi putri kecil milik ayahku. Milik ayahku. Seorang putri yang mencium tangan ayahnya setiap kali ayahnya berangkat bekerja atau setiap kali ia berpamitan pergi.

Aku pasti akan merindukan tangannya yang beraroma syurga. Tangan yang telah mengelus lembut kepalaku, menuntunku berjalan, berlari, mengenggam kuat saat aku dalam bahaya, menarikku untuk bersegera menuju perintah-Nya. Tangan yang nanti akan menjabat tangan lelaki lain yang akan menggantikan tangannya untukku. Tangan lain yang ia percayakan kepadanya putri kecilnya untuk dituntun, digenggam, diperlakukan sebagaimana yang ia telah lakukan terhadap putrinya.

Ayahku. Satu hal yang amat sangat aku syukuri dalam hidup ini adalah menjadi putrinya, meski tidak bisa selamanya menjadi miliknya. Tapi tentu kita pernah mendengar bahwa cinta tak selamanya harus memiliki bukan? Maka cintaku kepadanya, akan selalu bersemi di hati ini, meski nanti aku menjadi milik yang lain.

Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang kepadamu hingga akhir hayatmu, Ayahku.

Seperti Cokelat dan Buku

Seorang teman menulis ini di malam pergantian tahun, tepat di detik terakhir kami secara resmi tidak lagi berada di tempat yang sebelumnya kami berada disitu selama beberapa waktu lamanya. Aku ingin share itu disini karena tempat itu telah menjadi bagian dari hidupku, juga karena perumpamaannya begitu mengena: cokelat dan buku; dua benda yang dekat dengan kehidupanku. 🙂

…………..

Hari ini jadi istimewa bagiku karena menjadi momen terakhir untuk membuka hari yang baru, sendiri tanpa kalian.
Bagai cokelat yang setiap gigitannya begitu manis, begitu caraku memaknai kalian.
Pahitnya cokelat justru membuatnya terasa legit.
Senyum kalian bersenandung dengan tawa yang mengalun dalam pikiran.
Selalu ingin kuputar berulang kali, setiap saat waktu kujemu.
Sudah berapa kali kita membuat segi, duduk berhadap-hadapan untuk bercakap-cakap, berdebat, tetapi lebih banyak tawa di sana.
Sebuah meja yang kita mungkin lupa namanya, meja Adenium dua.
Awalnya berwarna hijau kemudian ranum menjadi jingga, seperti kita.

Seperti buku, kisah kita akan menemui versi. Namun demikian, kita tidak pernah tahu. Hanya memaknai perpisahan dari jauhnya jarak. Akan tetapi, sesungguhnya, kita sama-sama memiliki hati. Kedekatan ada, selalu di benak, dan selamanya di hati.
Aku dan kamu adalah kita yang akan senantiasa bersama.  🙂 ❤️ 🙂

Tak hentinya aku memohon maaf. Tak hentinya aku mengucap terima kasih. Namun demikian, aku selalu mengaharap permintaan tolong selama aku tetap dikenang ada.

 

31-12-2014
By: Viktor Yudha Kuncoro

Janji Bunga Matahari

Hujan selalu bisa membuatku jadi melankolis. Bisa membuat aku tiba-tiba merindu dan mengingat seseorang. Seperti hujan malam ini ditambah senandung lagu “Himawari No Yakusoku”, yang membuatku teringat pada sosok seorang pecinta bunga Matahari, yang baru saja pergi untuk selamanya… Kak Aul, begitu aku biasa memanggilnya.

Kenapa pula themesong film yang baru-baru ini aku tonton judulnya “Himawari No Yakusoku” (yang artinya “Janji Bunga Matahari”) ??

*tiba-tiba ingatanku menembus ruang dan waktu*

*tiba-tiba air mata meleleh*

Sudah, sudah, mari kita lihat saja tumblr nya, disini: http://auliabulkia.tumblr.com/

Lihat, dia begitu ceria kan? Seceria bunga matahari… dia bahkan masih sempat menuliskan kalimat-kalimat optimis… *meleleh lagi*

Kalimat terakhir yang aku ucapkan padanya Februari lalu di suatu acara, ketika kami tidak sengaja bertemu setelah sekian lama, ketika bahkan aku sudah lupa menanyakan kabarnya karena kesibukanku, adalah: “Kakak cepat sembuh ya Kak! :)”

Fisik yang kulihat ketika itu sudah tidak seperti Kak Aul yang kukenal dulu, yang bahkan mau jadi langsing aja susah… Tiba-tiba saja dia sekurus dan setirus itu sampai-sampai aku hampir tidak mengenalinya. Lalu dia meminta suaminya mengambil gambar kami berdua, dengan kameranya. Tidak ada yang mengira bahwa itu adalah foto terakhir kami. *meleleh la.. gi…”

Allahummaghfirlaha Warhamha Wa’afiha Wa’fu ‘anha.

Aku yakin Allah sayang padanya, itu sebabnya Dia memanggilnya dengan sangat cepat. Allah beri dia kesempatan untuk merasakan sabar atas satu penyakit, yang membuatnya benar-benar bersiap diri bahwa cepat atau lambat Allah pasti memanggilnya.

Lalu aku malu pada diriku sendiri…

Sudah sejauh mana persiapanku menuju pertemuan dengan-Nya?

Terkadang… bukan… seringkali, nikmat sehat yang Dia berikan membuatku lalai untuk bersiap diri, padahal banyak, sangat banyak yang harus aku lakukan untuk bersiap diri.

Allahummaghfirlii warhamnii wa’afinii wa’fu ‘annii…

will I?

Sering aku mendengar kisah orang-orang di sekelilingku, bahwa dalam perjalanan menuju happy ending, mereka telah melalui batu-batu kerikil yang entah berapa banyak jumlahnya. Kerikil-kerikil itu bentuknya bermacam-macam, ada yang halus, yang begitu mudah dilewati bahkan diloncati, tapi ada juga yang kasar lagi tajam menusuk hingga membuat nyaris mundur perlahan, urungi niat untuk maju. Tapi adalah suatu keniscayaan, bahwa sulit kita menemukan jalan yang mulus tanpa kerikil.

Lalu aku membayangkan, akankah aku bisa seperti mereka? Akankah aku temukan kerikil mulai dari yang halus sampai yang kasar lagi tajam, lalu kerikil-kerikil itu mampu aku lalui, hingga akhirnya aku melewati garis finish dengan senyum kebahagiaan?

Wallahu a’lam.

Jika memang aku harus melalui itu, maka sebuah nasihat yang juga aku dapat dari mereka akan aku ingat selalu.

“Jika memang kita yakin terhadap apa yang sedang kita perjuangkan,  jangan pernah berhenti memohon petunjuk dari Allah, agar searal apapun jalannya, kita diberi kekuatan untuk bisa melalui itu.”

MHDD

I was addicted in listening to this song..

yume wo egaku yo!

ほら風が動き出した まだ諦めたりはしない
太陽を雲の先に感じる 逆風であろうと

この胸は夢を描いてくよ どこまでも高く
自由に舞うのさ my heart draws A DREAM
Oh 降り立つ彼方で目を開けたら
笑顔のままの君に逢える気がして
ルラララ 逢えるといいな

ねえ 息を合わせたなら もっと高く飛べるはずさ
そこからは未来が見えるかな?
ツギハギであろうと

この胸は夢を描いてくよ 遥かなる時を
飛び越えてくのさ my heart draws A DREAM
いつの日かきっと叶うといいな
笑顔のままの君で居られるのに

さあ手を伸ばし 今、解き放とう
心は誰も縛られはしない
視線は日差しを捉えてる
どんな冷めた世界でも

誰も皆
夢を描くよ 夢を描くよ 夢を描くよ
Our hearts draw A DREAM
夢を描くよ 夢を描くよ 夢を描くよ… ほら

Oh 降り 立って彼方で 目を開けたら 絶や
あぁ 笑顔のままの 君に会えるといいな

He is Allah, wh…

He is Allah, who knows everything. Even when you feel someone close to your heart.

Jadi kalau mulai merasakan tanda-tanda keanehan di hati kita, mari lampiaskan dengan:

Bangun malam, ngobrol, curcol sama Allah.

Perbanyak baca Qur’an.

Skripsian (atau belajar).

Ngegalau di twitter? jangan lah.. di blog aja #eh?

hahaa. nggak lah. jangan. cukup Allah aja yang tau.

🙂